ojekindonesia.net - Bekasi, Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian bekerjasama dengan Temasek Foundation
dan The Logistics Institute dari National University of Singapore
merilis program Urban Logistics and Land Transportation Management guna
mengharmonisasi logistik perkotaan.
Menteri Koordinator bidang
Perekonomian Darmin Nasution menyatakan pentingnya perencanaan logistik
perkotaan karena menjadi enabler dalam kegiatan perekonomian terutama
kegiatan ekspor.
"Kita mungkin agak terlambat tetapi ini harus
dimulai untuk mendalami persoalan logistik,” kata Darmin di Kementerian
Perekonomian.
Menurut Darmin, perencanaan
logistik perkotaan sangat penting guna mengefisiensikan biaya logistik
dan meningkatkan daya saing. Darmin menyebut, contoh inefisiensi
logistik di perkotaan adalah masalah kemacetan yang menambah beban
biaya, keterbatasan lahan, dan tingginya tingkat emisi.
“Logistik
adalah persoalan angkutan, standar produk, distribusi, selama ini kita tidak memperhatikan masalah ini. Kita membawa sayur dari desa ke kota
dengan truk yang ditumpuk-tumpuk bersama dengan orangnya, kualitas
sayurnya memburuk,” terang Darmin.
Dia menyebut pemerintah tidak
bisa independen dalam menyelesaikan masalah logistik. Darmin menekankan
pentingnya efisiensi logsitik melalui sinergi antar lembaga dan
peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) khususnya para pengambil
kebijakan perencanaan tata kota.
Chairman Temasek Foundation Goh
Geok Khim menyatakan permasalahan urban logistics perlu mendapat
perhatian khusus dari segala pemangku kepentingan guna agar tidak
menambah permasalahan logistik pada masa depan.
“Saat ini
diperlukan perencanaan longterm urban planning, untuk menjawab tantangan
global yang tengah menyusun perencanaan tata kora mereka
masing-masing,” ungkap Goh Geok Khim.
Edy Putra Irawadi, Deputi
Bidang Koordinasi Perdagangan dan Industri Kementerian Koordinasi bidang
Perekonomian juga membenarkan bahwa inefisiensi biaya logistik
disebabkan oleh kerumitan logistik di perkotaan.
“Permasalahan
logistik paling banyak di daerah perkotaan, kalau dari desa ke kota
sudah lancar, inefisiensi justru terjadi di kota membuat biaya semakin mahal,” jelas Edy kepada Ojekindonesia.net
Menurutnya, hal itu
disebabkan oleh tiga hal. Pertama, buruknya tingkat pengawasan
pemerintah atas tata ruang perkotaan. Misalnya, suatu lahan yang sudah
ditetapkan sebagai jalur hijau justru dibangun gedung. Kedua, adalah
buruknya manajemen transportasi darat sehingga menyebabkan kemacetan.
Ketiga adalah sentralisasi kegiatan perekonomian yang di perkotaan.
“Hal-hal
tersebut masih berimbas dengan peningkatan emisi, maka Kemenko
bekerjasama dengan NUS untuk mendidik para pembuat kebijakan agar bisa
meninjau kembali semua kebijakan yang diputuskan,” terang Edy.
Pasalnya,
selama tiga puluh bulan ke depan peserta workshop program Urban
Logistics and Land Transportation Management harus merumuskan
perencanaan dan pengawasan tata kota yang baik agar tidak mengganggu
logistik.
Dia berharap hasil kerja program tersebut bisa
merealisasikan penyebaran kegiatan ekonomi semakin merata dari tingkat
pedesaan, perkotaan, dan pasar global.


No comments:
Post a Comment